Teror Penghuni Pulau Karya: Jangan Pernah Menoleh Jika Dipanggil di Dermaga Malam Hari!
Kepulauan Seribu memang surga bagi pecinta wisata bahari. Namun, di balik jernihnya air laut Pulau Karya, tersimpan cerita kelam yang hanya diketahui oleh warga lokal dan segelintir pemancing nekat. Pulau ini bukan sekadar pulau administratif; ia adalah "rumah" bagi mereka yang sudah tak lagi bernapas.
Sebagai orang yang sering camping di pulau-pulau sekitar, aku selalu menganggap Pulau Karya adalah tempat yang tenang. Namun, pengalaman pahit dua bulan lalu mengubah pandanganku selamanya.
Area Pemakaman yang "Bernapas"
Malam itu, aku dan dua temanku, Rio dan Dani, memutuskan untuk bermalam setelah lelah memancing. Pulau Karya memang dikenal memiliki kompleks pemakaman besar. Warga lokal percaya bahwa pulau ini adalah pusat "energi" di Kepulauan Seribu.
Sekitar pukul 23:30, suasana berubah drastis. Angin laut yang biasanya sejuk mendadak terasa hangat dan lembap—bau amis darah mulai tercium, mengalahkan bau garam laut.
"Lu dengar nggak?" bisik Dani.
Dari arah pemakaman keramat, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat. Tap... Tap... Tap... Langkah itu berirama, seolah-olah ada pasukan tentara yang sedang berpatroli di atas pasir.
Sosok di Ujung Dermaga
Kami memutuskan untuk segera kembali ke arah dermaga, berharap ada perahu nelayan yang melintas. Namun, saat kami sampai di pangkal dermaga, aku melihat seorang pria berdiri membelakangi kami. Ia mengenakan seragam lusuh berwarna hijau tua, mirip seragam militer zaman dulu.
Rio yang mengira itu adalah penjaga pulau, berteriak memanggil. "Pak! Numpang tanya, Pak!"
Pria itu diam. Perlahan, ia mulai menoleh. Namun, yang berputar bukan hanya kepalanya, melainkan seluruh tubuhnya dengan gerakan patah-patah yang mengerikan. Saat cahaya senter kami mengenai wajahnya, jantungku serasa melompat keluar.
Dia tidak punya wajah. Hanya bongkahan daging rata dengan bekas sayatan yang masih basah.
Kami lari tunggang langgang tanpa berani menoleh lagi. Namun, teror belum berakhir. Di belakang kami, terdengar suara tawa melengking seorang wanita yang seolah-olah terbang mengikuti langkah lari kami.
Tabu yang Dilanggar
Keesokan harinya, setelah berhasil menyeberang ke Pulau Panggang dengan perahu nelayan subuh, seorang sesepuh setempat hanya menggelengkan kepala mendengar cerita kami.
"Di Pulau Karya, kalau dengar suara baris-berbaris atau dipanggil tanpa nama, jangan sekali-kali menyahut atau menoleh. Itu adalah 'Pasukan Penjaga' yang tidak suka ketenangannya diusik," kata beliau dengan nada dingin.
Hingga hari ini, setiap kali aku memejamkan mata, aku masih bisa mendengar suara sepatu bot itu. Tap... Tap... Tap... Seolah ia masih mengikutiku, menunggu aku menoleh untuk terakhir kalinya.


0 Response to "Teror Penghuni Pulau Karya: Jangan Pernah Menoleh Jika Dipanggil di Dermaga Malam Hari!"
Posting Komentar
"Jangan biarkan kolom ini kosong... kecuali Anda sedang tidak sendirian."