"Hantu di Kamar Kostan"

 


Malam itu, angin di luar terasa lebih dingin dari biasanya. Rina, seorang mahasiswi baru di Jakarta, tengah duduk di depan laptopnya, menyelesaikan tugas kuliah. Pikirannya kosong, matanya sudah mulai berat. Di luar, suara bising kendaraan yang melintas di jalan mulai menghilang, digantikan oleh sunyi yang menyeramkan. Pukul hampir menunjukkan angka dua pagi, dan Rina mulai merasa ada yang aneh dengan suasana kostan yang sudah lama ia huni ini.

Sejak beberapa hari terakhir, Rina merasa ada yang aneh dengan kamar kostannya. Kadang ia merasa ada yang mengawasi, atau mendengar suara langkah kaki di lorong meski tak ada seorang pun. Tapi, karena ia merasa masih baru di kota, ia menganggap itu hanya perasaan aneh yang timbul karena penat.

Namun, malam itu berbeda.

Rina terbangun dari tiduran sebentar, matanya agak buram karena lelah. Saat ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air, sesuatu yang aneh menarik perhatiannya. Lantai kayu kostan yang selalu terasa berderit itu malam ini terasa sangat hening. Tidak ada suara apapun. Kamar kost di sebelahnya, yang biasanya terdengar berisik karena teman-temannya sedang nonton film, kini sunyi. Rina merinding, ada sesuatu yang tak beres.

Setelah mengambil segelas air, ia kembali ke kamarnya. Tapi saat baru akan membuka pintu, ia melihat sesuatu yang tak biasa—sebuah cahaya biru yang sangat terang keluar dari celah pintu kamar, seakan ada yang menyalakan lampu neon di dalam sana. Padahal, ia yakin lampu kamar sudah dimatikan sebelumnya. Hatinya mulai berdegup kencang. Rina menggigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan diri.

"Ada apa ini?" gumamnya, meski suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

Rina mulai membuka pintu dengan perlahan. Tak ada suara berdecit seperti biasa. Pintu itu seolah menghilang suara saat dibuka, hanya ada kegelapan dan cahaya biru yang semakin lama semakin terang.

Saat pintu terbuka sepenuhnya, Rina hampir terjatuh. Kamar yang biasanya gelap itu kini dipenuhi cahaya biru yang sangat terang, namun tidak membakar. Cahaya itu seakan memancar dari langit-langit, meskipun tidak ada sumber cahaya yang tampak jelas. Tapi, lebih mengejutkan lagi, di tengah ruangan ada sosok wanita berpakaian putih dengan rambut panjang terurai, menutupi hampir seluruh tubuhnya.

Rina membeku, darahnya seolah berhenti mengalir. Sosok itu hanya berdiri diam, wajahnya tertutup rambut, tak terlihat jelas. Hanya ada bayangan samar dari sosok itu yang bergerak pelan ke arah Rina. Suasana hening, kecuali suara napasnya yang terdengar terengah-engah.

Rina ingin berteriak, tetapi suaranya tak keluar. Ia merasa tubuhnya seperti tertahan, tidak bisa bergerak, hanya bisa berdiri menatap. Semakin dekat, sosok itu semakin jelas—dan begitu wajahnya terlihat, Rina hampir pingsan. Mata wanita itu kosong, hitam pekat tanpa iris atau pupil, hanya kekosongan yang mengerikan, seolah ia menatap langsung ke dalam jiwanya.

Wanita itu membuka mulut, suara seraknya terdengar pelan, menggetarkan:

“Kamu... harus pergi sebelum semuanya terlambat."

Rina merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang. Kakinya mulai gemetar, tubuhnya hampir tak mampu menahan ketakutan yang merambat. Tapi anehnya, tubuhnya tetap tak bergerak, seolah terperangkap dalam kekuatan yang tak terlihat. Sosok itu semakin mendekat, dan Rina merasa udara di sekelilingnya semakin sesak. Ia bisa merasakan hawa dingin yang tajam, seperti ada ribuan jarum yang menusuk kulitnya.

Tiba-tiba, sosok itu berhenti. Wajahnya masih tertutup rambut panjang yang lebat. Rina melihat tubuhnya yang semakin memudar, seakan ia menjadi kabut. Dan sebelum Rina sempat melakukan apapun, wanita itu tertawa. Tawa yang melengking, terdengar menusuk telinga.

"Terlambat…" kata wanita itu, suaranya serak dan dalam, seolah berasal dari dasar laut yang sangat dalam.

Dan dengan sekejap, semua lampu padam. Kegelapan menyelimuti seluruh kamar kostan. Rina tidak bisa melihat apapun, bahkan dirinya sendiri. Hanya suara derap langkah kaki berat yang terdengar di sudut kamar, pelan namun pasti.

Ia ingin berteriak, tapi lidahnya seakan terkunci. Jantungnya berdegup sangat kencang. "Apa ini? Apa yang terjadi?" pikirnya panik. Tapi semuanya semakin gelap, dan langkah kaki itu semakin dekat. Keringat dingin mengucur deras di dahinya.

Tak lama, langkah itu berhenti. Suara itu berhenti, dan ada keheningan mencekam. Tiba-tiba, suara ketukan datang dari pintu. Tiga ketukan yang sangat pelan, seperti suara jari yang menyentuh pintu kayu.

Rina terdiam, takut bergerak. "Apa itu?" pikirnya, semakin panik.

Ketukan itu terus berulang, semakin lama semakin keras. Hanya ada tiga ketukan, tiga ketukan yang tak pernah berhenti. Tanpa sadar, Rina mendekati pintu. Setiap ketukan seakan mengendalikan langkahnya. Satu ketukan, dua ketukan, dan ketukan terakhir yang keras seperti pukulan palu. Dengan keberanian yang tersisa, Rina membuka pintu.

Tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan, dan bau tanah yang menyengat. Tidak ada jejak langkah atau tanda-tanda lain. Ia melihat lorong kost yang kosong, sunyi tanpa kehidupan.

Namun, saat ia menutup pintu, ia terkejut melihat cermin di depannya. Refleksi dirinya yang pucat dan ketakutan terpantul jelas di kaca. Namun di belakangnya, ada bayangan samar—sosok wanita berpakaian putih, dengan mata kosong yang menatapnya.

"Jangan coba lari," suara itu berbisik di telinganya, dan kali ini bukan hanya bisikan, melainkan sebuah ancaman yang sangat nyata.

Esok harinya, Rina terbangun dengan tubuh penuh keringat. Ia merasa seperti baru saja bermimpi, namun perasaan takut itu nyata. Pagi itu, ia memeriksa kamar dengan hati-hati, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. Tapi tidak ada yang aneh. Semua tampak normal, seperti tak ada kejadian semalam. Namun, ketika ia menoleh ke cermin, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Di balik pantulan dirinya, terlihat bayangan hitam samar—terdiri dari rambut panjang yang terurai. Dan di balik bayangan itu, hanya ada mata kosong yang menatapnya dengan penuh amarah.

Rina tahu, kostan ini tak hanya dihuni oleh manusia. Ada yang lain yang menunggunya di dalam kegelapan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Hantu di Kamar Kostan""

Posting Komentar

​"Jangan biarkan kolom ini kosong... kecuali Anda sedang tidak sendirian."