"Di Balik Cermin"

Pagi itu, Alda terbangun dengan perasaan tidak enak. Hari sebelumnya, hujan deras mengguyur kota, dan hujan itu membawa kegelapan yang terasa lebih dari sekadar langit yang mendung. Ada sesuatu yang aneh di dalam rumah tua peninggalan neneknya itu. Rumah yang dulu ramai dengan suara tawa dan percakapan kini terasa begitu sunyi, bahkan lebih sunyi dari biasanya.
Cermin besar yang tergantung di ruang tamu selalu menjadi pusat perhatiannya. Cermin itu diwariskan oleh neneknya, dan meskipun terlihat antik, seakan memiliki daya tarik yang tak bisa dijelaskan. Alda tidak bisa mengingat kapan terakhir kali neneknya membersihkan cermin itu, tapi yang pasti cermin itu sudah lama tidak pernah dipindahkan atau disentuh.
Namun, sejak beberapa minggu terakhir, Alda merasa ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali ia melintas di depan cermin itu, bayangannya tampak sedikit terlambat. Seolah-olah ia baru bergerak setelah dirinya sendiri bergerak.
Pada malam hari, Alda sering terbangun di tengah tidur, merasa seperti ada seseorang yang mengamatinya. Begitu membuka mata, ia melihat bayangan samar di cermin yang dibiarkan 

Menyala oleh cahaya dari luar jendela. Bayangan itu selalu memandanginya dengan tatapan kosong dan dingin.
Alda mencoba untuk mengabaikannya, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya khayalan. Tapi keanehan semakin menjadi-jadi. Suatu malam, saat hujan turun dengan derasnya, Alda duduk di ruang tamu sambil membaca buku. Cermin itu kembali menarik perhatiannya. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalamnya.
Dengan rasa takut yang mulai menggerayangi, Alda mendekati cermin dan menyentuh permukaannya. Begitu tangannya menyentuh kaca, tubuhnya terlonjak. Cermin itu terasa dingin, lebih dingin dari yang ia kira. Ia bisa melihat bayangannya lebih jelas dari sebelumnya, tapi ada yang aneh.
Bayangan itu—bayangan Alda—berdiri tegak dan menatapnya dengan tatapan yang bukan miliknya. Bayangan itu tersenyum, tapi senyum itu bukanlah senyum yang ramah. Senyum itu penuh dengan sesuatu yang jahat. Alda mundur, merasa mual dan ketakutan.
Alda berbalik dan lari ke lantai atas. Namun, setiap kali ia menoleh ke belakang, bayangan itu tetap ada, semakin dekat, seolah-olah mengikutinya.
Pagi harinya, Alda memutuskan untuk pergi ke pasar dan mencari seseorang yang bisa menjelaskan kejadian aneh itu. Di pasar, ia bertemu dengan seorang wanita tua yang tampaknya tahu apa yang sedang terjadi.
"Rumah itu," kata wanita tua itu dengan suara parau, "dulu milik seorang dukun yang sangat kuat. Cermin itu adalah benda keramat. Jangan sentuh lagi, atau kamu akan terjebak di dalamnya."
Alda merasa darahnya beku. "Apa maksudnya terjebak?" tanya Alda, dengan suara gemetar.
Wanita tua itu menggelengkan kepala, "Cermin itu bisa memerangkap jiwa. Jika bayanganmu sudah mulai bergerak tanpa seizinmu, itu artinya waktumu sudah dekat."
Setelah mendengar itu, Alda kembali ke rumah dengan hati yang gelisah. Malam itu, ia duduk di depan cermin, berusaha untuk menenangkan diri. Namun, cermin itu mulai menunjukkan pergerakan yang lebih cepat. Bayangan Alda mulai bergerak tanpa ia perintahkan, dan perlahan mulai keluar dari cermin.
Alda berteriak ketakutan, tetapi tak ada yang bisa menolongnya. Bayangannya kini berdiri di depannya, tersenyum lebar dengan wajah yang semakin berubah menjadi menyeramkan. Dalam sekejap, bayangan itu mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Alda.
Semua gelap.
Keesokan harinya, keluarga Alda menemukan rumah itu kosong. Cermin besar di ruang tamu masih tergantung di tempatnya, tetapi tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Mereka mencari Alda ke seluruh penjuru kota, namun ia tak pernah ditemukan.
Yang mereka temukan hanya bayangan Alda, yang kini tampak selalu berdiri di depan cermin, menunggu seseorang yang berani untuk menyentuhnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Di Balik Cermin""

Posting Komentar

​"Jangan biarkan kolom ini kosong... kecuali Anda sedang tidak sendirian."