Penunggu Kontrakan Nomor 7


 Cerita ini ditulis berdasarkan kejadian nyata yang dialami oleh seorang mahasiswa di pinggiran Kota Semarang. Nama dan lokasi disamarkan.




Aku tidak pernah percaya cerita mistis—sampai aku tinggal di kontrakan nomor 7.


Tahun 2019, aku merantau ke Semarang untuk kuliah. Karena uang pas-pasan, aku memilih kontrakan murah di daerah yang jarang dilalui kendaraan. Bangunannya tua, catnya mengelupas, dan halaman depannya hanya ditumbuhi pohon kamboja besar yang katanya sudah ada sejak puluhan tahun lalu.


Pemilik kontrakan hanya berkata singkat saat aku menandatangani perjanjian.


“Kalau malam, jangan buka pintu sebelum Subuh.”


Aku mengira itu hanya candaan orang tua.


Aku salah.





Malam Pertama: Bau Anyir dari Kamar Mandi



Malam pertama berjalan normal sampai sekitar pukul 01.30. Saat aku hendak tidur, tiba-tiba tercium bau anyir, seperti darah bercampur tanah basah, dari arah kamar mandi.


Aku periksa.

Kosong.


Tak ada apa-apa. Kupikir mungkin saluran air kotor.


Namun bau itu semakin menyengat—dan hanya muncul setelah tengah malam.


Anehnya, bau itu menghilang sendiri menjelang Subuh.





Ketukan dari Dalam Rumah



Hari ketiga, kejadian aneh mulai terasa jelas.


Sekitar pukul 02.00, terdengar ketukan pelan.


Tok… tok… tok…


Bukan dari pintu depan.

Tapi dari tembok kamar, tepat di samping tempat tidurku.


Aku membeku. Ketukan itu berpindah-pindah, seolah ada yang berjalan di dalam dinding.


Aku berteriak,

“Siapa?!”


Ketukan berhenti.


Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara napas berat, sangat dekat dengan telingaku.


Aku tidak berani membuka mata.





Bayangan di Cermin



Puncaknya terjadi pada malam ketujuh.


Saat itu aku ke kamar mandi sekitar pukul 01.00. Ketika mencuci muka, aku menatap cermin—dan melihat bayangan seorang perempuan berdiri tepat di belakangku.


Rambutnya panjang, wajahnya pucat, matanya hitam tanpa putih.


Aku menoleh cepat.


Kosong.


Namun saat aku kembali melihat cermin…

bayangan itu semakin dekat.


Aku pingsan.





Fakta yang Disembunyikan



Keesokan harinya aku mendatangi tetangga sebelah. Dengan wajah pucat, aku menceritakan semua yang kualami.


Tetangga itu terdiam lama, lalu berkata pelan:


“Kontrakan nomor 7 itu dulu tempat seorang perempuan bunuh diri. Dia hamil, ditinggal pacarnya. Mayatnya ditemukan di kamar mandi… tiga hari kemudian.”


Aku langsung muntah.


Bau anyir.

Ketukan dari dinding.

Bayangan di cermin.


Semuanya masuk akal.





Malam Terakhir



Malam itu aku memutuskan pergi.


Saat aku mengemasi barang, terdengar suara perempuan berbisik dari arah kamar mandi:


“Jangan pergi…”


Lampu mati.

Pintu depan terkunci sendiri.


Aku membaca doa sekuat tenaga sambil menangis. Setelah hampir satu jam, pintu terbuka perlahan.


Aku lari tanpa menoleh.





Setelah Itu…



Kontrakan itu kini kosong.

Tidak pernah disewakan lagi.


Setiap orang yang lewat malam hari mengaku mendengar suara air menetes dan tangisan perempuan dari arah kamar mandi.


Aku bersyukur masih hidup.


Namun sampai sekarang, aku tidak pernah berani bercermin saat tengah malam.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penunggu Kontrakan Nomor 7"

Posting Komentar

​"Jangan biarkan kolom ini kosong... kecuali Anda sedang tidak sendirian."