Bus Terakhir yang Kutumpangi Tidak Pernah Sampai Tujuan


 Malam itu hujan turun rintik-rintik, membuat aspal memantulkan cahaya lampu jalan yang pucat. Aku berdiri sendirian di halte tua dekat perempatan, menunggu angkutan terakhir menuju rumah. Jam di ponsel menunjukkan 23.52. Biasanya, kalau sudah lewat jam segini, tidak ada lagi bus yang lewat.


Aku sudah hampir menyerah ketika suara mesin tua terdengar dari kejauhan.


Sebuah bus besar melambat dan berhenti tepat di depanku.


Nomor rutenya terpampang jelas di depan kaca: 23B.


Dadaku langsung terasa sesak. Aku ingat betul rute itu. Lima tahun lalu, bus dengan nomor yang sama mengalami kecelakaan hebat dan sejak itu trayeknya resmi ditutup. Aku pernah membaca beritanya, meski tidak terlalu mengingat detailnya.


Namun malam itu, rasa lelah mengalahkan logika.


Aku naik.





Suasana di Dalam Bus



Begitu kakiku menginjak lantai bus, hawa dingin langsung menyergap. Bukan dingin AC, tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang. Bau besi basah dan sesuatu yang samar seperti tanah kuburan memenuhi udara.


Penumpangnya tidak banyak, sekitar delapan orang. Mereka duduk berjajar rapi, menatap lurus ke depan. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada suara dering ponsel. Bahkan tidak terdengar suara napas.


Aku memilih duduk di bangku tengah.


Saat aku menyerahkan uang, supir tidak menoleh. Tangannya yang kurus menerima uangku tanpa sepatah kata. Aku sempat melirik wajahnya dari kaca spion, tapi bayangannya kabur, seolah tertutup kabut tipis.


Bus mulai berjalan pelan, terlalu pelan untuk ukuran jalan utama.





Jalan yang Salah



Beberapa menit berlalu. Aku mulai merasa ada yang tidak beres. Bus berbelok ke arah yang seharusnya tidak dilewati angkutan umum. Lampu jalan semakin jarang, pepohonan di kiri kanan jalan tampak terlalu rapat, membentuk lorong gelap.


Aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa mungkin rute ini hanya dialihkan.


Tapi saat melihat jam di ponselku lagi, waktu masih menunjukkan 23.55.


Tiga menit berlalu, tapi waktu seolah berhenti.





Halte Tanpa Nama



Bus berhenti mendadak di sebuah halte kecil. Bangunannya kusam, papan namanya kosong, catnya mengelupas. Lampu di atasnya berkedip pelan.


Satu per satu penumpang berdiri dan turun.


Aku memperhatikan mereka dengan saksama. Wajah-wajah itu pucat, mata mereka kosong. Dan saat kakiku ikut berdiri, aku menyadari sesuatu yang membuat tengkukku merinding.


Tidak ada suara langkah kaki.


Lebih parah lagi, kaki mereka tidak benar-benar menyentuh tanah. Tubuh mereka melayang sedikit, seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Aku duduk kembali dengan gemetar.





Tinggal Berdua



Setelah halte itu, bus kembali berjalan. Kini hanya ada aku dan supir.


Keheningan terasa berat, menekan telingaku. Aku memberanikan diri bicara.


“Pak… ini bus ke arah mana?”


Supir tidak menjawab.


Beberapa detik kemudian, ia berbicara tanpa menoleh.


“Kamu salah naik.”


Suaranya datar, tapi terasa dalam, seperti datang dari tempat yang jauh.


Aku ingin berdiri dan turun, tapi pintu bus tidak mau terbuka. Aku menarik tuas darurat, percuma.


Bus terus melaju.





Namaku Disebut



Beberapa saat kemudian, supir itu kembali bicara.


“Seharusnya kamu turun lebih awal, Raka.”


Aku membeku.


Aku tidak pernah menyebutkan namaku. Tidak ada identitas apa pun yang bisa ia lihat.


Jantungku berdetak kencang. Tanganku dingin dan basah oleh keringat.


“Kamu belum waktunya,” lanjutnya. “Tapi hampir.”





Terminal Terakhir



Bus akhirnya berhenti di sebuah terminal tua. Bangunannya besar tapi gelap, dipenuhi karat dan debu. Papan nama miring, hampir jatuh. Tidak ada suara kendaraan lain. Tidak ada manusia.


Supir itu menoleh untuk pertama kalinya.


Wajahnya pucat keabu-abuan, matanya hitam tanpa kilat. Di balik seragamnya, aku melihat bekas luka panjang di leher dan lengan, seperti akibat benturan keras.


“Turun,” katanya pelan.


Aku turun dengan kaki lemas. Begitu kakiku menginjak tanah, supir itu mendorongku ringan namun tegas. Pintu bus menutup sendiri.


Bus itu melaju pergi dan perlahan menghilang di balik kabut.





Kembali ke Awal



Aku terjatuh dan kehilangan kesadaran.


Saat terbangun, aku kembali berada di halte semula. Hujan masih rintik-rintik. Jam di ponselku menunjukkan 23.56.


Seolah tidak ada waktu yang berlalu.


Keesokan harinya, rasa penasaran memaksaku mencari informasi tentang rute 23B. Aku menemukan artikel lama.


Bus 23B mengalami kecelakaan, tergelincir ke jurang saat hujan deras. Semua penumpang dan supir meninggal di tempat.


Jam kejadian tercatat 23.55.





Sejak Malam Itu



Aku tidak pernah naik bus malam lagi.


Tapi kadang, saat pulang larut dan berdiri sendirian di halte, aku mendengar suara mesin tua melambat dari kejauhan.


Dan aku selalu memastikan…

jam di ponselku belum menunjukkan 23.55.




cerita horor, kisah horor malam hari, cerita horor paling seram, cerita misteri, pengalaman mistis, cerita bus angker, cerita horor indonesia



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bus Terakhir yang Kutumpangi Tidak Pernah Sampai Tujuan"

Posting Komentar

​"Jangan biarkan kolom ini kosong... kecuali Anda sedang tidak sendirian."